Minta Tebusan Uang Bitcoin, Pembuat Virus Ransomware Susah Dilacak

[Iklan Sponsor oleh Google]

uang-bitcoin-tebusan-virus-wannacry
Saat ini dunia memang sedang dihebohkan oleh Virus Ransomware Wannacry dan lebih dari 90 negara telah dilaporkan sudah terjangkiti virus ini. Termasuk di Indonesia, ada 2 Rumah Sakit besar yang menjadi sasarannya. Berbeda dengan jenis virus atau malware lainnya, virus ini meminta uang tebusan bitcoin kepada si pemilik komputer yang telah terinfeksi agar bisa terbebas dari serangannya.

Dan memang, pembuat dari virus ini lebih menargetkan seranganya untuk data-data yang ada pada jaringan dan komputer lembaga-lembaga atau perusahaan. Baca juga: virus Android penghasil uang online dan bahaya mencari bitcoin di internet.

Hal tersebut mungkin dimaksudkan agar lebih mudah menuruti permintaan mereka dan memberikan uang tebusannya agar data penting tidak sampai hilang.

Mengapa hacker pembuat virus Ransomware Wannacry meminta tebusan uang bitcoin..?

Hal itu agar mereka sulit untuk dilacak keberadaanya. Karena setiap pemilik akun yang menjalankan transaksi Bitcoin bisa dengan mudah menggunakan identitas palsu, tidak seperti transaksi keuangan online paypal misalnya yang mengharuskan mendaftar menggunakan identitas asli.

Berapa jumlah uang tebusan yang diminta pembuat Virus Ransomware Wannacry..?

Mengutip dari situs Kompas Tekno, 2 Rumah sakit yang dibeberapa komputernya terinfeksi, yakni Rumah Sakit Dharmais dan Rumah Sakit Harapan Kita, mereka dimintai untuk membayar tebusan sebesar 4 juta.

Sangat berbeda dengan kasus yang dialami salah satu Rumah Sakit di Los Angeles - Amerika Serikat (AS) yang bernama Presbyterian Medical Center yang diminta untuk membayar uang tebusan hingga sekitar 226 juta rupiah.

Jika dilihat dari kejahatannya tersebut, banyak pihak yang mengatakan bahwa pembuat Virus Ransomware Wannacry bukanlah hacker melainkan teroris, karena dalam dunia hacking biasanya menjunjung tinggi kode etik yang harus dipatuhi yang diantaranya adalah tidak boleh menyerang Rumah Sakit.

Karena hal itu memang sangat memalukan. Ketika banyak pasien sakit yang sedang membutuhkan pengobatan dan perawatan harus terlambat mendapatkan penanganan karena sisten dan data yang terganggu oleh Virus tersebut.

. . . . .

Artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar