Dimas Kanjeng Dapat Uang 1 Triliun Dengan Dalih Penggandaan Gaib

. . .
modus-penipu-uang-gaib
Dimas Kanjeng, adalah sosok yang saat ini sedang menjadi sorotan publik di media tv nasional, internet dan juga lainnya. Dan konon pria yang sudah mendirikan 2 padepokan yang terletak di Probolinggo dan Makassar yang juga berpostur tubuh gemuk ini mampu melipat gandakan uang. Di situs layanan streaming video online youtube, juga banyak sekali pencarian yang mencari video dari aksi pria yang dengan nama asli Taat Pribadi tersebut. Dan ternyata ada beberapa video yang berisi seperti adegan sulap penggandaan uang gaib yang sudah di unggah di youtube sejak tahun 2015 lalu. Namun kini setelah akhirnya tertangkap oleh Polisi beberapa hari yang lalu, sedikit demi sedikit kebenarannya akan mulai terkuak. Baca juga cerita misteri pesugihan putih.

Apakah Dimas Kanjeng memang bisa menggandakan uang gaib atau hanyalah seorang penipu dengan modus penggadaan uang..?

Hingga kini pihak berwajib dari Kepolisian masih terus menyelidiki, namun dari beberapa penuturan tokoh-tokoh yang belum dirilis secara resmi di media menyatakan bahwa Dimas Kanjeng ternyata tidak bisa menggadakan uang.

Penangkapan tersebut terjadi setelah sebelumnya telah ditemukannya 2 orang korban tewas yang merupakan anggota atau pengurus yayasan di padepokan.

Karena seakan-seakan sangat identik dan  berkaitan erat dengan agama karena telah membuat 2 padepokan juga, berbagai toko ulama dari beberapa ormas Islam pun ikut menyikapi peristiwa ini dan angkat bicara.

Seperti misalnya dari Ketua MUI untuk wilayah Jawa Timur KH. Abdusshomad Buchori, bahwa ternyata dalam padepokan tersebut ada salah satu amalan yang menyimpang atau ritual atau mungkin bisa juga disebut sebagai mantra yang apabila di lakukan akan dapat melipatkan gandakan uang mereka secara ghaib. Dan amalan tersebut disebut sebagai Shalawat Fulus. Hehehe dan terus terang kami juga geli dan ingin tertawa ketika mendengar tentang hal ini.

Dan ada juga kejadian lucu yang cukup menggelikan lagi seperti yang diberitakan oleh website kompas.com. Ketika dalam perjalanan dari padepokan ke kantor Polisi setelah ditangkap, salah satu aparat ada yang menanyakan kepada Dimas Kanjeng dengan pertanyaan seperti ini: "katanya bisa menggandakan uang, tolong dong, isi mobil ini dengan uang".

Lalu Dimas Kanjeng menjawab: "tidak bisa Pak, karena untuk menggandakan uang harus dibantu dengan bantuan (jin) makhluk halus. Dan sekarang jin-jin atau makhluk halus tersebut tidak bisa, karena tadi mereka terkena gas air mata yang dilemparkan Polisi".

Selain itu Katib Syuriah PWNU Jawa Timur, Bpk. Syafrudin Syarif, mengatakan bahwa aktivitas Dimas Kanjeng tersebut merupakan salah satu dari penyalahgunaan agama. Karena ia menjadikan Agama (dalam hal ini Islam) sebagai alat untuk mengumpulkan pengikut dengan niat-niat khusus seperti mengeruk keuntungan dari orang lain yakni dengan cara penggadaan uang.

Jadi jika sudah menyebut uang sebagai pancingan, tentu saja dapat kita sedikit artikan bahwa pengikut yang menetap di padepokan tersebut niatnya utamanya adalah bukan untuk ibadah dan menuntut ilmu, melainkan hanya sekedar untuk mendapatkan uang lebih dari setiap uang yang mereka setorkan.

Dan baru-baru seperti yang kami kutip dari situs berita detik.com, kepada para anggota Komisi III DPR RI, bahwa menurut penuturan Dimas Kanjeng langsung jumlah uang yang sudah berhasil ia dapatkah dari para pengikutnya jumlahnya mencapai 500 miliar hingga 1 triliun rupiah.

Dan kejadian ini, sebenarnya merupakan sedikit cerminan bahwa sebenarnya masih banyak masyarakat Indonesia yang mempunyai pemahaman dan pengetahuan agama yang sangat minim sekali.

Kok, sampai sekarang masih ada yang percaya praktik-praktik dengan modus penggandaan uang seperti ini. Seharusnya mereka yang diajak untuk ikut dalam menggandakan uang dan disuruh untuk mengumpulkan dana atau mahar bertanya: "jika memang benar Dimas Kanjeng bisa menggandakan uang, seharusnya pengikut yang bergabung gratis, tapi kenapa masih mau meminta pengikutnya untuk menyetorkan uang yang total jumlahnya mencapai 1 triliun tersebut".

.


Artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar